SUMENEP, sumenep – Meninggalnya seorang pasien yang sebelumnya menjadi sorotan dalam video cekcok antara keluarga pasien dan perawat Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep menyisakan pertanyaan serius. Di tengah perhatian publik yang terus berkembang, keluarga pasien kini menuntut penjelasan yang terang mengenai penanganan medis sebelum pasien meninggal dunia.
Roni, kakak kandung pasien, meminta manajemen RS BHC Sumenep tidak membiarkan persoalan tersebut berhenti pada polemik di media sosial. Ia berharap rumah sakit memberikan klarifikasi terbuka mengenai kronologi kejadian dan tindakan medis yang dilakukan terhadap adiknya.
“Adik kami sudah meninggal dunia. Kami meminta pihak BHC memberikan klarifikasi yang jelas dan terbuka mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Keluarga membutuhkan penjelasan, bukan membiarkan persoalan ini terus menjadi tanda tanya di tengah masyarakat,” demikian pernyataan Roni.
Permintaan itu menjadi penting karena video yang beredar memperlihatkan keluarga mempertanyakan kondisi pasien yang disebut mengalami muntah-muntah, tindakan terhadap infus, serta keberadaan petugas ketika pasien berada dalam kondisi tersebut.
Dalam rekaman berdurasi sekitar 1 menit 30 detik yang diunggah akun TikTok @patah.tpi.kuat atau SaAeLau, seorang pria terdengar mendesak perawat menjelaskan penanganan pasien. Perawat dalam video memberikan penjelasan mengenai pemberian obat secara bertahap, termasuk obat untuk mengatasi muntah dan obat pereda nyeri.
Namun, penjelasan dalam video tersebut belum menjawab seluruh pertanyaan mengenai kronologi penanganan pasien hingga akhirnya meninggal dunia.
Jika manajemen BHC melakukan investigasi internal, publik perlu mengetahui bahwa proses tersebut benar-benar ditujukan untuk mengungkap fakta, bukan sekadar meredam polemik.
Investigasi internal semestinya menelusuri kronologi secara menyeluruh, termasuk kondisi pasien, catatan pemberian obat, pemantauan selama perawatan, tindakan terhadap infus, serta respons petugas ketika pasien mengalami muntah-muntah.
Tentu, informasi medis yang bersifat pribadi tetap harus dilindungi. Namun, perlindungan kerahasiaan pasien tidak semestinya menjadi alasan untuk menghindari pemberian penjelasan yang layak kepada keluarga melalui mekanisme yang sesuai.
Manajemen juga perlu menjelaskan apakah evaluasi telah dilakukan, apakah ditemukan persoalan dalam prosedur pelayanan, serta langkah perbaikan apa yang akan ditempuh apabila terdapat kekurangan.
Sebab, ketika sebuah persoalan pelayanan kesehatan telah menyita perhatian publik, kepercayaan tidak cukup dipulihkan dengan pernyataan singkat bahwa investigasi sedang berlangsung. Masyarakat membutuhkan proses yang jelas, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Permintaan Roni bukan sekadar persoalan yang muncul akibat viralnya sebuah video. Di balik peristiwa tersebut, ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya dan membutuhkan penjelasan mengenai apa yang terjadi.
“Kami berharap pihak rumah sakit berani menjelaskan persoalan ini secara terang. Jangan sampai keluarga terus bertanya-tanya tanpa memperoleh kejelasan mengenai penanganan yang dilakukan terhadap adik kami,” demikian pernyataan yang dirumuskan untuk mewakili sikap Roni.
Dalam kasus seperti ini, sikap terbuka dan komunikasi yang manusiawi semestinya menjadi bagian penting dari tanggung jawab pelayanan kesehatan, terlebih ketika keluarga sedang menghadapi kehilangan.
Meski demikian, dugaan kelalaian yang disampaikan melalui media sosial tidak dapat langsung dianggap terbukti. Hubungan antara tindakan medis yang dipersoalkan dan meninggalnya pasien harus ditelusuri berdasarkan rekam medis, kronologi lengkap, serta pemeriksaan oleh pihak yang berwenang.
Justru karena persoalannya serius, klarifikasi tidak boleh berhenti pada saling bantah antara keluarga dan petugas. Fakta harus diperiksa, pertanyaan harus dijawab, dan setiap kesimpulan harus didasarkan pada bukti.
Hingga berita ini disusun, tanggapan resmi manajemen RS BHC Sumenep atas permintaan klarifikasi Roni belum diperoleh.
Kini, pertanyaan yang menunggu jawaban bukan hanya mengenai apa yang terekam dalam video, melainkan juga bagaimana penanganan pasien berlangsung hingga ia meninggal dunia, serta sejauh mana pihak rumah sakit bersedia menjelaskan dan mempertanggungjawabkan proses pelayanan yang menjadi sorotan.
Keluarga membutuhkan kejelasan. Publik membutuhkan transparansi. Dan manajemen rumah sakit memiliki tanggung jawab untuk merespons persoalan ini secara profesional, terbuka, serta berdasarkan fakta.
Pewarta: Mansuri
Editor: Ahmadi







Comment