MBG: Malaikat Berjubah Gelap

Oleh: Fauzi As

OKENEWS.ID – Pada awalnya saya termasuk orang yang mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bukan karena saya bagian dari pemerintah.
Bukan pula karena saya mendapat manfaat apa pun dari program itu.

Alasan saya sederhana.
Negeri ini memiliki jutaan keluarga yang masih menghitung setiap butir beras sebelum dimasak. Program yang menjamin anak-anak mendapatkan makanan bergizi terdengar seperti kabar baik.

Saya membayangkan seorang ibu di pelosok desa yang tidak lagi terlalu khawatir ketika anaknya berangkat sekolah.

Saya membayangkan seorang ayah yang penghasilannya pas-pasan bisa sedikit bernapas lega karena negara ikut membantu memenuhi kebutuhan gizi anaknya.

Saya membayangkan program ini menjadi wajah negara yang paling manusiawi.

Bukan negara yang hadir melalui baliho.

Bukan negara yang hadir melalui pidato.

Tetapi negara yang hadir melalui sepiring makanan.

Namun semakin hari, saya mulai memahami satu hal.

Niat baik ternyata tidak cukup.
Karena niat baik yang dikelola oleh sistem yang buruk sering kali berubah menjadi masalah yang jauh lebih besar.

Program yang seharusnya memberi makan anak-anak kcil justru sibuk memberi makan para pembantu presiden.

Program yang seharusnya menguatkan masa depan bangsa justru diduga menjadi ladang permainan oknum DPR.

Dan ketika kasus demi kasus mulai terungkap, rakyat kembali dihadapkan pada pertanyaan lama:

Apakah yang salah programnya?

Ataukah orang-orang yang mengelilinginya?

Dalam dunia pewayangan, raksasa biasanya mudah dikenali.
Tubuhnya besar.
Wajahnya menyeramkan.
Suaranya menggelegar.

Tetapi dalam dunia politik, raksasa justru sering tampil rapi.
Mengenakan jas mahal.
Berbicara santun.
Tersenyum di depan kamera.
Kadang mampu menangis.

Karena itulah saya memberi judul tulisan ini: Malaikat Berjubah Gelap.
Sebab dalam kehidupan bernegara, tidak semua orang yang terlihat menyelamatkan benar-benar datang untuk menyelamatkan.

Ada yang datang membawa janji.

Ada yang datang membawa harapan.

Ada yang datang membawa air mata.

Tetapi belum tentu membawa kebenaran.
Yang membuat saya lebih khawatir sebenarnya bukan dugaan korupsinya.

Korupsi adalah penyakit lama republik ini.
Yang membuat saya khawatir adalah ketika seorang Presiden mulai hidup terlalu jauh dari kenyataan yang dialami rakyatnya.

Sudah lama beredar cerita bahwa akses menuju Presiden sangat terbatas.
Bahkan ada kabar bahwa banyak pejabat harus melewati pintu-pintu tertentu sebelum bisa menyampaikan laporan langsung.

Saya tidak tahu sejauh mana cerita itu benar.

Tetapi jika memang seorang Presiden hanya menerima laporan yang sudah dipoles, disaring, dan dipilihkan, maka itu adalah situasi yang berbahaya.

Sebab tidak ada pemimpin yang bisa mengambil keputusan tepat jika informasi yang diterimanya tidak utuh.

Bayangkan seorang Presiden menerima laporan bahwa semuanya baik-baik saja.
Padahal di lapangan program-programnya bermasalah.

Bayangkan Presiden diberi kabar bahwa rakyat puas. Padahal rakyat sedang mengeluh.

Bayangkan Presiden diyakinkan bahwa tidak ada kebakaran. Padahal asapnya sudah terlihat dari mana-mana.

Sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa kerajaan tidak runtuh karena musuh yang kuat.
Sering kali kerajaan runtuh karena para penjaga gerbang yang terlalu sibuk menyenangkan rajanya.

Di tengah badai MBG, muncul sosok baru.
“Nanik S. Deyang.”

Ketua Badan Gizi Nasional yang kini menjadi wajah baru penyelamatan MBG.

Beliau tampil di berbagai forum, podcast, dan stasiun televisi.
Penuh keyakinan.
Penuh optimisme.
Sesekali dengan mata yang berkaca-kaca.

Bahkan tak jarang dengan air mata yang mengalir.

Dan seperti biasa, air mata selalu memiliki kekuatan besar di negeri ini.

Air mata bisa mengundang simpati.

Air mata bisa menghapus kemarahan.

Air mata bisa membuat publik berhenti bertanya.

Tetapi dalam urusan uang rakyat, air mata tidak boleh menjadi pengganti transparansi.
Publik tetap berhak bertanya.

Apakah Nanik benar-benar tidak mengetahui apa yang terjadi sebelumnya?

Apakah semua persoalan ini benar-benar muncul tanpa jejak yang bisa dibaca sejak awal?

Apakah beliau hadir sebagai pembenah sistem?

Ataukah sekadar petugas pemadam kebakaran yang datang ketika rumah BGN sudah telanjur hangus?

Pertanyaan itu bukan fitnah.
Justru pertanyaan itulah yang menjaga demokrasi tetap sehat.
Karena yang sedang dipertaruhkan bukan reputasi seseorang.
Yang sedang dipertaruhkan adalah uang rakyat dan Gizi anak.

Saya sering heran melihat pejabat yang begitu takut pada kritik.
Padahal kritik adalah alarm.
Yang seharusnya ditakuti justru ketika tidak ada lagi yang mau mengkritik.

Karena saat rakyat diam, bisa jadi mereka sudah putus harapan.
Rakyat sebenarnya tidak menuntut kesempurnaan.
Mereka paham bahwa mengurus negara tidak semudah mengurus warung kopi.

Mereka paham bahwa program besar pasti memiliki masalah.
Tetapi rakyat ingin kejujuran.
Kalau program belum berhasil, katakan belum berhasil.

Kalau ada kesalahan, akui kesalahan.
Kalau ada mafia, bongkar mafianya.
Kalau ada koruptor, tangkap koruptornya.
Sesederhana itu.

Jangan setiap masalah dijawab dengan ancaman.

Jangan setiap kritik dijawab dengan narasi.

Jangan setiap kegagalan ditutupi dengan konferensi pers dan pengalihan isu.

Karena rakyat hari ini mungkin tidak punya kekuasaan. Tetapi rakyat memiliki ingatan.

Dan kepada siapa pun yang terlibat dalam penyimpangan program ini, saya ingin menitipkan satu pertanyaan sederhana.

Ketika Anda menandatangani proyek BGN.
Ketika Anda menghitung keuntungan.
Ketika Anda membagi komisi.

Pernahkah Anda membayangkan ada anak kecil yang sedang menunggu makanan itu di sekolah?

Pernahkah Anda membayangkan ada ibu yang berdoa agar program itu benar-benar membantu anaknya tumbuh sehat?

Pernahkah Anda membayangkan bahwa uang yang Anda mainkan itu berasal dari keringat petani, nelayan, guru, buruh, dan pedagang kecil?

Jika pernah membayangkannya, lalu tetap melakukannya, maka persoalannya bukan lagi soal hukum.

Persoalannya ada di hati.
Karena mencuri uang negara memang kejahatan.
Tetapi mengambil hak anak-anak yang seharusnya mendapatkan masa depan yang lebih baik adalah bentuk pengkhianatan yang jauh lebih gelap.

Dan sejarah selalu mencatat satu hal:
Rakyat mungkin bisa memaafkan pejabat yang gagal.

Tetapi rakyat tidak pernah benar-benar memaafkan pejabat yang mengkhianati harapan.

Maka sebelum terlalu sibuk menjadi malaikat di depan kamera, pastikan dahulu bahwa jubah yang dikenakan tidak menyimpan bayangan gelap di belakangnya.

Sebab pada akhirnya, yang akan diingat rakyat bukanlah pidato, bukan pula air mata.
Melainkan keberanian untuk jujur ketika kekuasaan sedang menggoda untuk berbohong. (Ahmadi).

Comment