Di Tengah Badai Digital, Dr. Zein Tawarkan Manajemen Sengketa Rumah Tangga Berkeadaban

Okenews.id-Sumenep, Perubahan teknologi yang begitu cepat ternyata tidak hanya mengubah cara orang bekerja, tetapi juga cara pasangan membangun dan menjaga hubungan. Hal itu disampaikan Dr. Moh. Zeinudin dalam Pelatihan Konselor Perkawinan dan Agama yang digelar PD ’Aisyiyah Sumenep pada 30 November 2025. Pakar hukum perkawinan dari Universitas Wiraraja ini menilai, konflik rumah tangga kini telah merambah ruang digital.

Menurut Dr. Zein, masalah keluarga tidak lagi sebatas ekonomi, komunikasi, atau peran dalam rumah tangga. Kini muncul persoalan baru seperti perselingkuhan digital, kecanduan gawai, kekerasan berbasis teknologi, hingga distorsi komunikasi di media sosial.

“Disrupsi digital bukan hanya mengubah cara orang bekerja, tetapi juga cara pasangan berhubungan. Banyak konflik lahir dari ruang-ruang digital yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan,” ujarnya.

Dalam paparannya, ia memperkenalkan konsep “manajemen sengketa rumah tangga berkeadaban”. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang memadukan hukum, nilai agama, dan literasi digital. Konselor, katanya, tidak cukup hanya memberi nasihat, tetapi juga harus memahami landasan hukum, seperti UU Perkawinan, UU PKDRT, dan aturan terbaru dalam KUHP. Namun, ia mengingatkan bahwa penyelesaian konflik tetap harus berorientasi pada pemulihan.
“Hukum itu pada hakikatnya untuk manusia, dan agama pun hadir untuk memuliakan manusia. Karena itu penyelesaian sengketa keluarga harus mengutamakan pemulihan martabat, bukan penghukuman,” kata Dr. Zein.

Ia juga mengingatkan, banyak perceraian terjadi bukan karena cinta yang hilang, tetapi karena ketidakmampuan mengelola konflik di era digital.
“Banyak pasangan gagal bertahan bukan karena hilangnya cinta, tetapi karena kurangnya kecakapan mengelola konflik dalam ekosistem digital. Ini pekerjaan rumah besar kita,” ujarnya.

Di akhir sesi, ia mengajak para konselor untuk menjadi mediator yang tidak hanya memahami hukum dan moral, tetapi juga peka terhadap dinamika digital yang memengaruhi hubungan keluarga. Membangun keluarga sakinah, menurutnya, tidak bisa instan. “Membangun keluarga sakinah bukan kerja sehari dua hari. Ini pekerjaan peradaban”, tutupnya. (*).

Comment