Sempat Vakum Lama, Kini Pengrajin Batik Beddey Khas Sumenep Bangkit Kembali

Oke News, Sumenep, 06 Maret 2023-Setelah sempat vakum sekitar 6 tahun lamanya, disusul adanya pandemi, pengrajin Batik Tradisional Beddey di Desa Pakandangan Barat, Kecamatan Bluto, mulai beroperasi lagi berkat perhatian Pemerintah Kabupaten Sumenep, di bawah kepemimpinan Bupati Achmad Fauzi.

Seperti yang dirasakan pengrajin Batik Beddey di Kampung Tegal dan Kampung Pesisir Desa Pakandangan Barat, mulai berkarya setelah ada program Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Batik oleh Pemerintah setempat, termasuk pembuatan seragam Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Salah seorang pengrajin Batik Beddey, Khotimah (55) Warga Dusun Tegal Desa Pakandangan Barat, mengaku sangat bersyukur dengan adanya program bupati karena merasa terbantu,”Alhamdulillah berkat membatik untuk biaya anak di pondok sudah ada, tidak ngutang lagi di toko dan untuk bayar arisan sudah tidak susah lagi, terima kasih Bapak Bupati Fauzi,”ucapnya.

Hal senada juga disampaikan pengrajin batik lainnya Munawarah, dia yang awalnya merantau ke Negeri Jiran Malaysia, kini dia kembali membatik lagi di rumahnya.”Alhamdulillah mas sejak ada aktivtas membatik Saya tidak ke Malaysia lagi, semoga program bupati ini terus berlanjut,”harapnya.

Sementara itu Dauli pengrajin Batik Beddey asal Kampung Pesisir menuturkan bahwa sejumlah pembatik di daerahnya sudah lama tidak berkarya karena tidak ada modal. Waktu itu, hasil karya batik Beddet tersebut dijual ke pedagang namun tidak terbayar sesuai jumlah batik yang dihasilkan. Misalnya, terkumpul batik sebanyak 10 potong, namun yang dibayar hanya tiga hingga lima potong saja. Itu berjalan dalam waktu yang lama sehingga modalnya habis. “Tapi, saat ini pembatik tinggal mengambil bahan di koperasi yang dibentuk dan hasil batiknya juga dijual ke koperasi tersebut,”tuturnya.

Dia menambahkan, selama ini setiap pembatik bisa menghasilkan batik Beddey sebanyak 10 potong selama satu Minggu. Para pembatik bisa menyetorkan hasil karyanya setiap hari Kamis. Batik Beddey tersebut seharga Rp 135 ribu per potongnya. Hal itu sesuai kesepakatan antara pembatik dengan koperasi. Semua pembatik yang menggarap batik Beddey itu merupakan anggota koperasi yang bersedia mengeluarkan modal tersebut, sementara koperasi menjual batiknya ke ASN dilingkungan Pemkab setempat. “Bangkitnya batik Beddey ini membuat masyarakat di sini bisa hidup secara ekonomi lebih baik. Tidak hanya bisa menghidupi keluarga sehari-hari, tapi juga bisa menyekolahkan anak,” tegasnya.

Mayoritas pembatik yang tergabung di koperasi kata dia bisa menghasilkan batik sebanyak 10 potong per orang, jika dalam waktu satu bulan mencapai 40 potong per orang. Sementara, hasil penjualan dari pembuatan batik Beddey itu diperkirakan mencapai Rp 5,4 juta perbulan per orang. “Tapi masih dipotong modal yang dikeluarkan,” paparnya.

Dengan bangkitnya batik Beddey ini warga sangat terbantu secara ekonomi, sebab warga yang berada di dua dusun itu hidupnya bergantung pada bertani jagung dan hewan ternak, sebagian lagi melaut. Untuk proses pembelian hasil batiknya, para pembatik tidak menjualnya langsung ke pemakai, melainkan pada koperasi yang menaunginya. “Kalau ada yang butuh, kami tidak bisa menjual langsung ke konsumen, tapi ke koperasi, jadi konsumen yang membeli ke koperasi,” tandasnya.*

Komentar