oleh

KH. A. Busyro Karim: Seandainya Bisa Saya Jadi Wartawan, Sebuah Profesi Satu-Satunya Diabadikan dalam Al-Qur’an Surah (Al-Naba’)

Oke News, Sumenep 30 November 2021-Semakin bangga menjadi seorang Jurnalis atau yang akrab dikenal dengan sebutan Wartawan. Karena selain pekerjaannya yang mulia memberikan informasi kepada masyarakat.  Ternyata  nama Wartawan juga tertera dalam sebuah Surah dalam Al-Qur’an, yaitu Surah ke 78 (Al-Naba’), yang artinya pembawa berita. Bahkan dari ribuan Ayat dalam Al-Qur’an ada sekitar 142 Ayat yang berkaitan tentang Al-Naba’ atau pembawa berita. Yang tentunya berita positif bukan berita hoaks seperti yang marak beredar di media sosial.

Bahkan, saking istimewanya profesi wartawan, mengundang perhatian mantan orang nomer satu di kabupaten paling ujung  timur Pulau Madura Ini, yakni KH. A. Busyro Karim. Manurutnya, seorang  wartawan adalah pembawa berita, sama halnya dengan Nabi yang membawa berita. Baik berita tentang surga maupun berita tentang neraka. “Seandainya bisa saya jadi wartawan, kenapa? Karena satu-satunya profesi yang diabadikan  menjadi surah dalam Alqur’an hanya wartawan. Namanya  surat Al-Naba’. Jadi dari 114 surat dalam Al-Qura’an ada Surah wartawan, karena Al-Naba’ itu pembawa berita dan wartawan juga pembawa berita,” ungkap KH. A. Busyro Karim saat  memberi sambutan di acara Resepsi Hari Pers Nasional (HPN) dan HUT ke-74 PWI, yang digelar di Meeting Room Lantai 5 Hotel de Baghraf Selasa (11/2/2020).

Konsep Dasar Berita dalam Al-Qur’an

Berita menempati posisi sentral dalam Al-Qur’an. Mengenai berita Al-Qur’an menawarkan beberapa konsep dasar atau terma kunci: al-naba’, al-khabar, al-ḥadȋts dan al-‘ifk.1.Al-Naba’Kata al-naba’berasal dari kata naba’a  seakar kata dengan al-anba’(menginvestigasi), al-nabi’u (tempat yang lebih tinggi), dan al-nabiy (pembawa berita=nabi). Kata al-naba’dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 29 kali; 17 kali dalam bentuk tunggal dan 12 kali dalam bentuk jamak.

Penggunaan term naba’ dalam Al-Qur’an pada umumnya merujuk pada pemberitaan yang sudah dijamin kebenarannya, atau sangat penting untuk diketahui, meskipun manusia belum bisa membuktikannya secara empirik karena keterbatasan ilmunya. Termasuk dalam kategori ini adalah berita ghaib, khususnya tentang hari kebangkitan. Selain itu juga terdapat penggunaan kata naba’dalam arti pemberitaan yang disampaikan Tuhan yang dapat diketahui manusia karena kemampuan ilmu yang dimilikinya.

Berita-berita tentang umat terdahulu yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad saw. termasuk dalam bagian ini. Berita-berita seperti ini antara lain disebutkan dalam QS. Hud (11): 100, 120, QS. Thaha (20): 99, dan QS. al-A’raf (7): 101.  Al-naba’(berita yang penting), hanya digunakan bila ada peristiwa yang sangat penting dan besar, berbeda dengan kata khabar, yang pada umumnya digunakan juga pada berita-berita sepele.

Sementara, ulama mengatakan berita baru dinamai naba’ apabila mengandung manfaat yang besar dalam pemberitaannya, adanya kepastian atau paling tidak dugaan besar tentang kebenarannya. Penyifatan al-naba’ dengan kata al-‘azhim (besar, agung) menunjukkan bahwa berita tersebut bukanlah hal biasa tetapi luar biasa. Bukan hanya pada peristiwanya tetapi juga pada kejelasan dan bukti-buktinya, sehingga mestinya ia tidak dipertanyakan lagi. Wallhua’lam Bissoweb.(sai)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Baca juga