oleh

Anggota DPKS: Sarjana Puncak Prestasi Pendidikan, Bukan Pengangguran

Oke News, Sumenep, Kamis 24 September 2020-Salah satu Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep (DPKS), Madura, Jawa Timur, Mohammad Suhaidi, menepis anggapan bahwa semakin banyaknya lulusan sarjana setiap tahunnya di Kabupaten Sumenep, malah semakin banyak pengangguran yang disinyalir menambah beban negara. Annggapan semacam itu dinilai tidak dapat dipertanggungjawabkan, sebab sarjana itu merupakan puncak prestasi pendidikan yang tidak bisa diukur untuk mendapatkan sebuah pekerjaan, tetapi diukur sejauhmana peran penting memberikan manfaat di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

“Peran penting itu yang lebih pas dijadikan ukuran kesarjanaan seseorang. Bukan karena  mendapatkan pekerjaan apalagi jabatan. Terkadang ada orang rejekinya lancar meski tidak memiliki pekerjaan tetap. ya karena persoalan rejeki itu Tuhan yang ngatur,” ujar Suhaidi saat mengisi kegiatan diskusi, kemarin.

Menurut Suhaidi pendidikan itu pada hakikatnya hanya mengantarkan dan mengarahkan, kemudian apakah yang bersangkutan memiliki skill atau tidak, tergantung   masing-masing person untuk mengasah kemampuannya.

“Seperti Saya yang latar belakang Orang Tua Saya seorang petani, tetapi mengapa oleh Allah diberi kemampuan bisa menulis, makanya kemampuan itu sebenarnya bisa diasah,”terangnya.

Jadi, pada hakikatnya kata Suhaidi, kesarjanaan itu adalah keterampilan, dan keterampilan itu tidak harus linear dengan jurusan pendidikan yang digeluti, karena tidak ada jaminan seseorang akan mendapatakan pekerjaan sesuai  dengan jurusan yang digeluti. Sebab keterampilan bisa diasah.

“Seharusnya sarjana moderen memiliki pemikiran fleksibel, ikuti ritmenya, urusan pekerjaan sudah ada yang ngatur, yang penting hatinya tidak menganggur pada Allah,”paparnya.

Untuk itu, lanjut dia kedepan asumsi bahwa sarjana adalah pengangguran dibuang jauh-jauh, karena berkat titel sarjana itu sangat berpeluang besar untuk menyalurkan kemampuannya ke semua sektor. Seorang Sarjana tidak harus monoton di satu tempat tertentu, tergantung ikhtiar dan kemauan untuk mengasah keterampilannya tersebut.

“Saya meyakini sarjana itu tidak nganggur, pasti punya aktivitas yang penting dan berbeda dari yang bukan sarjana,”tutupnya. (Sai)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed